Mengirim Sebuah Pesan

Sebelumnya saya post di Facebook mengenai Sus Yati yang berangkat ke tanah suci untuk menunaikan ibadah umroh. Awalnya saya tidak ingin post foto-foto tersebut, kalaupun saya post, saya ingin private. Kemudian saya tergerak oleh adik saya untuk posting sedikit mengenai peristiwa ini karena… Kami rasa, awalnya, untuk lingkaran dekat kami, kami ingin mendorong teman-teman untuk do something more, lakukan sesuatu yang lebih, terutama untuk orang-orang sekitar kita yang telah selama ini setia menemani hidup kita. Saya ingin sebuah kesetiaan dihargai oleh banyak orang. Bagi saya sendiri, kesetiaan tidak dapat dipandang oleh suku, ras, agama. Kesetiaan itu datang dari hati, tulus, tidak dapat dibeli dengan uang. Itulah mengapa saya akhirnya memutuskan untuk membuka postingan tersebut untuk umum.

Sus Yati sudah bersama dengan keluarga saya selama 24 tahun, hampir seumur hidup saya. Ya, kami berbeda agama, kami berbeda ras, dan kami berasal dari keluarga yang berbeda. Kalau dilihat secara kasar, tidak ada kesamaan diantara kami. Selama 24 tahun ini, kami hidup bersama, hidup berdampingan, saling menyayangi. Bagi kami, ini bukanlah hal yang unik atau luar biasa karena kami sudah terbiasa dengan hidup seperti ini. Namun, saya tidak menutup mata, di luar sana, banyak orang-orang yang merasa bahwa hal ini jarang. Saya tahu dalam dunia ini terdapat kebencian, sekat-sekat yang memisahkan setiap individu, kalangan, ras, agama. Kita semua tahu dunia ini semakin jahat.

Saya ingin mendorong sahabat-sahabat saya, teman-teman saya, keluarga saya, orang-orang yang dapat saya jangkau, meski hanya dengan sebuah postingan, sebuah tautan, sebuah “click”, untuk membuka mata hati kita, mari kita bertindak berdasarkan kemanusiaan, bukan berdasarkan perbedaan. Saling berbagi tanpa terhalang oleh tembok kebencian atas nama perbedaan.

Bhinneka Tunggal Ika.

Perbedaan di Indonesia adalah sesuatu yang indah. Kita mendapatkan budaya yang lengkap, arsitektur yang luar biasa, pakaian yang beragam, bahasa-bahasa yang mengagumkan. Perbedaan inilah yang seharusnya menjadi dasar gerakan kita untuk bersatu.

Saya berharap, kita semua mulai bergerak dari diri kita sendiri, setiap individu, mari ubah pandangan kita, satukan hati atas nama kasih dan kemanusiaan. Tidak perlu menunjukan jari kita kepada pihak lain. Jika kita mulai mengasihi dari diri kita sendiri, orang di sekitar kita akan melihat dan merasakan sendiri dampaknya. Maka semakin banyak orang yang menyadari, semakin banyak yang tergerak hatinya.

Sebuah senyuman, salam sapa, saling tolong-menolong, mulai dari hal kecil. Saya yakin, semua orang adalah manusia yang baik. Kita hanya terluka di masa lampau. Ampuni yang telah berlalu. Mari kita buka lembaran baru.

Ubah dunia ini menjadi lebih baik untuk saya, kamu, mereka, dan untuk masa yang akan datang.

Indahnya hidup dalah kasih.

45828259_10216021929534626_331808273978097664_n

Hari ini, 11 November 2018, babysitter/pengasuh saya selama 24 tahun ini, berangkat #UMROH selama 20 hari.

Selama 24 tahun ini, tidak pernah sekalipun saya dengar keluhan keluar dari mulutnya.

Beliau adalah seorang pekerja keras, sudah tua dan beberapa kali ingin pensiun tapi, masih harus mengirimkan uang untuk anak cucu karena keluarga nya cukup besar. Beliau juga orang yang sangat religius dan sudah lama sekali bermimpi untuk pergi ke Tanah Suci. Namun uang tabungan nya selalu terpakai untuk kebutuhan keluarga. Di usianya yang sudah senja, tubuhnya sudah tidak sekuat dulu lagi saat menemani saya bermain dan berlari-lari. Beliau mulai obesitas, metabolisme tubuhnya melambat. Asam urat dan kolesterol sudah mulai mengganggu aktivitasnya.

Saya jadi yakin akan menggunakan penghasilan pertama saya untuk memberangkatkan beliau ke Tanah Suci. Adik saya juga setuju. Saya kemudian minta restu dari orang tua saya.

Saat pertama kali saya kabari, beliau hanya tertawa saja.

“Sus, coba cari travel buat umroh ya. Secepatnya Sus berangkat.”
Dipikirnya saya bercanda.

Setiap hari saya tanyakan hingga seminggu kemudian, beliau bertanya kepada asisten rumah tangga yang lain mengapa saya berkata demikian. Kemudian beliau menemui saya dan bertanya,”Beneran ta saya mau di umrohkan?”

Saya jawab,”Ya, cari dulu saja travel yang baik, biar ngga kena tipu. Kalau bisa yang punya kenalan. Cari yang bagus, yang nggak jauh tempatnya biar nggak capek nanti di sana.”

Beberapa hari kemudian, beliau membawa sebuah brosur dari keponakan nya. Ada paket promo umroh di travel tempat keponakan beliau bekerja.

“Sus, mau ambil yang mana?”

“Saya terserah. Berangkat aja sudah alhamdulilah.”

Saya langsung ambilkan paket yang PALING LENGKAP! Supaya di sana, beliau tidak terlalu capek, banyak fasilitas, lokasi hotel nya juga tidak jauh.

Saya paling ingat saat beliau memeluk saya dengan mata berkaca-kaca.
Saya tidak akan pernah lupa.

“Saya doakan, kamu sekeluarga banyak rezeki berlimpah-limpah. Nanti di sana kamu saya doakan.”

Sempat ada kendala karena akta lahir dimakan rayap, sehingga mengurus passport harus kesana kemari. Beliau tidak pernah berpikir bahwa suatu saat akan membutuhkan dokumen-dokumen tersebut. Jadi ya, biarin aja dimakan rayap~

Berkali-kali beliau bercerita pada saya bahwa tetangga-tetangga dan kenalan banyak yang tidak percaya. Banyak yang nyinyir kalau beliau akan pergi umroh.
Berangkat, hari ini! Silahkan nyinyir sepuasnya!!! Ini salah satu alasan kenapa saya ambilkan paket yang paling mahal. Biar yang nyinyir itu kapok. Orang mau ibadah aja dinyinyirin! Kurang kerjaan!

So, guys,
Jangan pernah meremehkan sebuah profesi. Jika dilakukan dengan tulus, ikhlas, setia, pasti akan membawa kebahagiaan dan berkat. Teman-teman juga bisa kok bawa kebahagiaan dan menjadi berkat untuk orang-orang sekitar. Mulailah dari hal kecil. Waktu, perhatian, dan kasih sayang yang tulus adalah harta yang tak ternilai, tak dapat dibeli dengan uang.

Ingat…
Orang yang setia itu langka.
Semoga terinspirasi dan mendorong teman-teman untuk terus berbuat baik dengan tulus tanpa memandang status sosial dan SARA.

Ini foto kami dan nenek angkat saya~

P.S.
Pake duit sendiri ya, bukan duit Ortu!

-W

#KisahSusYati

Kemudian saat Sus Yati pulang, saya jemput dan antar ke rumahnya di Krian, Sidoarjo.

46270578_10216045200396383_8017711713992310784_n

Woohoo~ SURPRISE!
The Suster is back~!
Sus Yati lg sakit krn habis kehujanan…
Habis dr airport langsung cao pigi Krian, anter ke rumah Sus.
Kurus bgt krn lg sakit TT^TT

Surprise yg sangat sukses~
Jadi Sus Yati itu ga tau kalo aku bakal jemput. Aku cm contact sm Ustadz Yusuf (Tour Leader nya. Thank you banget uda jagain Sus Yati.) dan anak-anaknya di contact sm Si Misete (yg baju merah di foto, baby sitternya adik yg plg kecil).
Super ga nyangka bakal dipeluk dengan isak tangis Sus Yati. Hati hello kitty ku meleleh…

Get Well Soon, Cus~!

Semoga semakin banyak teman-teman yang belajar dan mengerti arti sebuah kasih.

“It took me 24 years to make her happy, someone who is very dear to me, and to make her dream come true is a gift of joy to me and my family as well.”

-Wine Fallensky

#SusYati #PulangUmrah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s