Rinjani – The Pain And The Smile


Way To Rinjani

Day 1

horizon silhouette / horizon reflectionHari itu, Jumat, 26 Agustus 2011 aku pulang sekolah lebih cepat yaitu pukul 10.00. Mengapa? Simple, aku harus naik bus selama 1 hari ke Mataram untuk hiking di Rinjani, gunung api tertinggi di Indonesia. Awalnya sih aku santai-santai aja ya. Kan bus nya jam 3 sore. Jadi, aku memutuskan untuk tidur sampai jam 3. Tapi ternyata…

13. 00 WIB

“Yun, HP mu ada yang telpon lho… Diaz nelpon…”

“What the-”

Aku pun dengan susah payah bangun. Kemudian dengan mata setengah terpejam, kujawab juga panggilan itu.

“Halo, Bro…”

“Yun, kamu di mana? Bus nya sudah mau berangkat.”

“WHAT!?!?!? @#%$*!!!!!!!!!!!!!!”

Aku pun panik. Segera aku memasukkan semua barang2ku ke dalam mobil. 2 travel bag dalam mobil kecil, Subaru R1.

“Mom, Pak Sur (nama supirku) mana?”

“Lagi ngambil barang di Citraland. Rumah yang di sana kan baru laku.”

JDHHHIIIEEEEEEEEEERRRR!!!!! Mampus. Terus aku gimana?! Masa ke Paroki Juanda nyetir sendiri?! Besok baru nyampe tuh. Aku kan buta arah!

Setelah panic reaction berlalu…

Ternyata ibunda tercinta yang akan mengantar kepergianku merantau ke Rinjani.

Di perjalanan…

“Mom, nggak salah jalan…?”

“Nggak kok, tadi mama sudah nanya-nany ke Pak Sur.”

“Ooo…” Aku bengong saja. Biasanya buah tidak jatuh jauh dari pohonnya. Klo anak buta arah, kemungkinan kan turunan genetik dari orang tuanya. Teori genetika Mendel… (Haish…!)

Ternyata oh ternyata… Sang ibu nyasar juga.

Satu jam kemudian tibalah kami di Paroki Juanda setelah kelewatan 2 kali. Bro Diaz sudah menanti di depan gereja.

“Yun, bus nya sudah berangkat.”

@#$%^&*!!!!!! TERUS GIMANA?!?! Ini kan pengalaman pertamaku naik bus malam! Masa ketinggalan?! Woi!!!

“Kita ngejar sampe porong yah…”

“Tapi, Bro… Emang mobilku cukup…?”

Bro Diaz: (Melirik ke arah mobil)

SHING… Hening… Dengan gagahnya Subaru R1 yang berkapasitas 2 penumpang itu terparkir di depan gereja.

“Ya uda, paksa aja!”

“Tapi… Mamaku gak tau jalan…”

JDIEEERRR!!!

“Naik taxi aja, nih mama kasi uang.”

BLEG! RP 70. 000, 00 di tangan. Sip dah! “Segimana jauh sih porong.” Pikirku.

15 menit mengejar bus akhirnya terkejar. Iya dong, supir taxinya dipaksa ngebut. Aku pun melirik ke arah argo. 53.700. Aku kasih deh 70 ribu dan…

“Sama uang tol nya ya?”

“Urgh… Iya deh… Ambil aja.” Kataku dengan senyum murah hati walaupun hatiku rada berat. Gila, masa ngejar bus aja 70ribu?! @#$%^&!!!!!!

Kemudian aku naik di bus. Titian Mas. Apa pula artinya itu… I don’t give a shit-lah! (Kluar SingLish-nya) Aku duduk dengan santainya.

30 menit kemudian…

SIALAN!!! AKU LUPA! JAKET DAN MINUMKU KAN DI TAS!!! ARGH!!! SEMUANYA DI BAGASI BUS!!!

Jadilah aku kedinginan di bus. Tanpa jaket dan aku baru sadar kalau topiku tertinggal di R1 mungil yang dikendarai my beloved mother. @$#^%*!!! Hari pertama yang menyedihkan. Aku kelaparan juga di bus. Makan malam itu pukul 20. 00 WIB. Mommy, aku menderita di bus malam!!! Di feri pun tak jauh beda. Dingin. Angin malam menembus tubuh tanpa shining armor. Tapi setidaknya aku bisa membeli sebotol Aqua di feri! MY SAVIOR!

Padahal aku mikir,”Halah, seberapa lama sih perjalanannya…” dengan sangat meremehkan… Sialan sialan sialan…

Day 2

Pagi hari yang cerah, bus memasuki feri yang akan mengarungi lautan selama 6 jam. “Yes, bisa tiduran di ruang VIP.” Pikirku. Tapi, sialnya aku salah! Aku duduk di luar dekat moncong kapal di deck atas. Menyenangkan juga sih. Tapi, silau. Cahaya matahari menembus kacamataku yang transparan ini. G.Armani tidak ada artinya di hadapan Sang Surya. Biarlah, sekali-kali tak apa.

2 menit menikmati langit yang cerah tiba-tiba awan gelap datang dan… Hujan. HUJAN! HUJAN, MAN!! Untungnya aku tidak basah. Aku berlindung di atap polycarbonate. Huahahaha… Tawa kemenangan! Kasian bule-bule, tourist dari Jerman dan Rusia. Mereka yang sunbathing jadi showering.

Setelah tiba di pelabuhan… Biasa aja sih. Nggak ada kejadian seru lagi yang bisa dijadikan lelucon jayus. Langsung saja kita maju ke… Setelah tiba di Mataram trus naik angkot ke Paroki. Gereja Maria Imaculata… Pukul 12. 00!! YAY!! JAM MAKAN SIANG, BABY!!! Perutku sudah berteriak menjerit-jerit memanggil sushi, steak, wine… Ahhh surga… Tapi TERNYATA!??!?! Yang ada CUMA Nasi Campur, Ma’ Men! Kecewa berat plus depresi-lah diriku ini.

Yah, jujur saja… Selama di Mataram daku hanya makan nasi campur. Itu dan itu saja. Sampai artikel ini ditulis saya masih eneg sama yang namanya NASI CAMPUR. Saya benci dan dendam luar biasa karena nasi campur-nasi campur yang saya makan itu sekarang sudah menjadi radang dan infeksi. (Saya terkena radang usus setelah sukses kembali ke Surabaya.)

Hari itu aku berkenalan dengan banyak orang dan hebatnya aku lupa siapa saja. (Aku memang agak bermasalah dalam mengingat wajah dan nama orang.) Kemudian aku diajak ke Malimbu untuk melihat Sunset. Katanya sih bagus. Tapi ternyata… SUNSET-NYA KETUTUPAN GUNUNG AGUNG!!! CURSED!!!! Tapi lumayan. Sudah foto-foto. Bukti bahwa aku sudah menginjakan kaki ke bukit itu.

silhouette

Malamnya… Makan nasi campur lagi. Sudahlah, jangan dibahas nasi campurnya. Pokoknya malam itu ada briefing dari HANES. Dia adalah orang yang sudah sering mendaki Rinjani. Tanya jawab sedikit kemudian diberitahu bahwa Rinjani adalah gunung yang masih mistis, masih melekat dengan segala macam yang gelap-gelap itu. Sering kali ada ritual-ritual di Danau Segara Anak seperti cuci keris, pesugihan dan lain sebagainya.

Meringkuk apanya?!

Then, tidur. Aku tidur di sleeping bag. Meringkuk bagai kepompong. Iyalah, kan tinggal di paroki, cuma di kasi ruangan seluas setengah bangsal Lazarus St. Louis 1… Nggak sampe setengahnya juga. Itu buat tidur 20 orang lebih. Tambah sip aja, tidur cuma di atas karpet merah. Nggak enak, sungguh, Saudara-saudara… Berbahagialah kalian yang tidur di spring bed selama liburan karena saya hanya tidur di atas matras dan sleeping bag!

Day 3

Gue ketemu GARFIELD, MAN!
Gue ketemu GARFIELD, MAN!

Karena ada perda yang berkata bahwa kita tidak boleh makan di tempat umum selama bulan puasa… Jadi… Pergi ke GILI TRAWANGAN!! AKHIRNYA! Something to refresh my mind! Jam berlalu… Nasi Campur berlalu… setelah sewa boat… Berangkat. Ombaknya kecil daku pun senang. Aku bukannya mabuk laut ya, hanya saja aku takut boatnya terbalik kalau ombaknya besar. Buat apa nyewa boat kalau terbalik dan akhirnya basah juga, ya nggak? (Bohong, sebenarnya aku benci ombak besar karena aku tidak bisa berenang.)

Tiba di Gili Trawangan. Aku jadi pengangguran selama hampir 1 jam. Nothing to do. Hanya disodorin NASI CAMPUR. AW MAN!!! PLEASE!

1 jam berlalu… Nasi Campur berlalu… Aku beranjak dari tempatku duduk.

“Mau ke mana, Yun?”

“Mau jalan-jalan. Muter-muterlah. Daripada duduk di sini sampai jam 4.”

Ikutlah juga yang lain. (Mereka yang tidak berenang) Ya sudahlah. Kami pun berjalan. Ada penangkaran penyu di sana. Penyu-nya masih kecil-kecil karena yang besar sudah dilepas bulan lalu kalau tidak salah, Juli. Tiap 3 bulan dilepas. Keren juga sih melihat penyu-penyu itu. Jadi mikir… Andai saya bisa berenang…

Karena kepanasan, akhirnya es krim walls yang lewat pun dihajar. Dia jual magnum 15, Man… Di Surabaya bisa dapet 3. (nawar)

Jam 4. Pulang dari Gili. Di boat… OMBAKNYA GILA!! BESAR BANGET! Aku yang lagi makan jagung bakar di atas boat sampai tidak tega makannya. Air lautnya masuk ke boat sampai setengah. “OMG!!! AKU MASIH BELUM NAIK RINJANI, GOD!”

Ternyata sampai juga di Mataram dengan selamat tanpa tenggelam atau terbalik boatnya.

29.08.2011 DAY 1 TRACKING GUNUNG RINJANI [START]

Start yang molor hingga jam 10 lebih karena porter membongkar barang-barang. Ya, aku sama Shella menyewa seorang porter sedangkan yang lain 2 orang. Kami satu rombongan ada 43 orang. 3 orang bule dari Polandia. Keren-keren lho. (opo ae)

Start yang telat membuat matahari dengan ganasnya memangsa kulitku. Iya, aku terbakar matahari. Kulitku… GOSONG!

Medan di Rinjani memang ganasnya minta ampun. SAVANA, Ma’Men! SAVANA! Dan savana nya nggak datar tapi berbukit-bukit. And there’s no water at all! Puluhan kilometer daku berjalan selama berjam-jam, di mana ada pohon, disitulah daku berhenti, duduk sebentar dan beristirahat.

Hari pertama yang penuh peluh dan derita. Isinya hanya savana, savana, savana. Airku yang hanya 3 botol pun sukses berkurang hingga 1 botol. Gimana nggak coba?! Aku bisa dehidrasi!

Malamnya, di pos 2, 5. Kenapa 2, 5? Karena pos bayangan yang jaraknya 200 meter dari pos 3 DIKIRA adalah pos 3. Jadi, kebanyakan orang salah mendirikan tenda di sana. SWT kan… Emang.

Setelah mendirikan tenda di suhu udara yang luar biasa dinginnya, kami ‘sekeluarga’, Aku, Shella, dan Bro Diaz masak. Keluarkan nesting, buka kaleng sardine, keluarkan isinya di nesting, isi kaleng dengan bahan bakar; spirtus, bakar! Masak deh… Mie kuah berbagai macam rasa dicampur menjadi satu. Nggak karuan deh masaknya, percayalah, makanannya terasa sangat ANEH!

Aku sangat lelah. Pengen cepet-cepet tidur pokoknya! Segera setelah makan, langsung kukeluarkan benteng pertahananku! SLEEPING BAG! Letakkan dengan baik di atas matras dan… Tepar deh…

DAY 1 TARGET ACHIEVED (walaupun agak missed) POS 3 (almost 3)

30.08.2011 DAY 2 IN TN. GUNUNG RINJANI [7 BUKIT PENYESALAN KILLS]

Hari ke – 2: Menderita. Benar-benar penuh penderitaan. Savana… Makanannya jugafreaking weird taste like nothing on earth can describe. Bukit itu terlihat mudah dan dekat, puncaknya juga terlihat tapi, begitu sampai ke sana, ternyata masih ada lagi, masih ada lagi dan begitulah seterusnya. Tanjakannya benar-benar kills. Menanjak terus dan jarang sekali ada bidang datar. Aku bisa gila. Persediaan air mulai menipis dan bahuku seperti ditarik beban 2 ton. Sakit, lelah, menderita, panas, gosong, berkeringat, lapar.

Tiba-tiba… 300 meter dari puncak Bukit Penderitaan Mas Fadly dan seorang porter lainnya muncul! WOA!! [terpana] Mereka bantuin aku ngangkat tasku dan tasnya Shella [teman sehidup sematiku di Rinjani yang juga sudah washed out sampe menjulurkan lidah] ! Salute!Gue suka gaya lo, Man! Malaikat penolong… [terharu] Sungguh aku terbantu, tertolong! Luar biasa rasanya, bebankku terangkat! Ringan!

Tapi ternyata tidak. Tetap saja sulit naik ke puncak bukit-bukit $!@L#* itu. Dalam kondisi kelelahan dan kelaparan seperti itu, aku dan Shella tidak sanggup melewati jalan menanjak yang penuh dengan tangga alami setinggi 30 cm sampai 50 cm. Tinggiku saja 155 cm.

Hari itu aku sangat kelelahan. Setibanya di camping ground, sepertinya tubuh ini sudah tidak sanggup membangun tenda tapi, terpaksa harus membangun tenda kalau tidak ya… Tidak bisa tidur.

Selesai membangun tenda aku memutuskan untuk ikut dengan porter – porter yang akan mengambil air ke sumber air. Setidaknya aku mau cuci muka dan mengguyur kepalaku dengan air dingin.

“Segarnya… $%*#!… Dingin juga ya…” Pikirku.

Sebenarnya dingin sekali tapi, karena habis kelelahkan jadi terasa tidak begitu dingin.

Setelah masak dan makan malam, aku segera tidur ‘pulas’. Ya, kira-kira jam 11 malam baru bisa tidur. Hehehe… Setelah di recall, seru juga hari ke – 2 ini. Walaupun kelelahan setengah hidup tapi, aku suka pengalaman seperti ini.

31.08.2011 DAY 3 IN TN. GUNUNG RINJANI [MENUJU PUNCAK]

Subuh pukul 01.00

Aku dibangunkan dari tidurku. Padahal aku baru tidur pukul 11 malam. Kurang tidur deh tapi, tak apa, mari kita berangkat ke puncak Rinjani!

Semuanya berkumpul kecuali 2 orang, Shella dan William. Nggak tau siapa William itu. Aku tidak kenal. Briefing sebentar, romo memimpin doa kemudian kami berangkat.

Gelap. Aku cuma membawa satu flashlight (bukan fleshlight… {hayo, mesum pikirannya…}) dan satu botol aqua. Katanya sih 4 jam sudah tiba di puncak. Tapi…

4 jam kemudian…

“KENAPA JALANNYA NGGAK HABIS-HABIS?!?! PADAHAL PUNCAKNYA SUDAH KELIHATAN!!!!” pikirku.

Medannya cukup berat… SANGAT BERAT sebenarnya. Pasir berwarna abu-abu, hasil pelapukan batuan, kerikil-kerikil kecil, dan batu-batu lepas. Sulit sekali berjalan di medan seperti itu. Apalagi jalannya menanjak cukup curam. Setiap kali berjalan, kakiku serasa terbenam dan turun kembali. Sepertinya mencapai puncak adalah mission impossible. Apalagi kan aku kurang tidur! Lapar lagi… Kanan dan kiriku jurang.

“Kalau aku tiba-tiba pingsan di sini, tamatlah…” pikirku,”TIDAK! AKU BELUM MAU MATI! DAN AKU TIDAK MAU MATI DI TEMPAT SEPERTI INI!!!”

Dengan semangat untuk hidup, aku memaksakan diri untuk terus berjalan tapi, semakin lama, tubuhku semakin melemah juga. Dinginnya angin di pagi hari bisa membunuhku. Sialnya aku hanya mengenakan jaket sport Adidas. Mana bisa melindungi aku dari angin ganas seperti itu!?

10 meter dariku terdapat batu-batuan besar. Aku pun berlindung di sana. Kebetulan banyak juga yang beristirahat di sana. Ada tiga orang porter di sana. [Porter: orang yang memandu dalam tracking; terkadang membawakan barang-barang seperti logistik dsb, red.] seorang darinya, Fadly. Yes, aku selamat! >> Mas Fadly membawa selimut tebal. Aku pun berlindung. Hangat, serasa hidup kembali. STOP! Ini bukan lebay, KAMU NGGAK TAU SEPERTI APA RASANYA BERADA DI SANA DENGAN KONDISI KELAPARAN DAN MENGANTUK!!!

Aku berjarak +- 100 m dari puncak tapi, benar, jujur, dan sungguh… Jalan ke puncak itu curam sekali. Dengan medan yang seperti ini dan kondisi separah ini aku tidak sanggup. Apalagi jam 8 sudah harus turun dari puncak karena akan ada badai di puncak. Mungkin bisa turun lebih cepat kalau terbawa badai. Atau mungkin turunnya kelewatan… Ke neraka maksudku.

Aku lelah. Mataku berkunang – kunang. Sudah 2 jam aku berjalan dengan bantuan webbing [tali tebal untuk safety. Baca buku Pecinta Alam St.Louis 1 atau Google it.] Aku juga sudah hampir kehabisan air. Matahari telah menampakkan sedikit dari cahayanya. Jam telah menunjukkan pukul 6. 00. Aku sudah tidak punya waktu dan tenaga untuk ke puncak. Aku menyerah.

“Mas, aku balik aja deh. Uda nggak kuat. Dingin lagi. Gak bakal nyampe puncak jam 8.”

Aku pun kembali ditemani Mas Fadly.

*Kenapa nggak kembali sendiri aja? HEH! Kamu mau aku roll depan alias menggelinding sampe bawah apa?!

Aku dipinjami selimut tebal. Lumayan daripada sampe bawah aku jadi frozen statue. Lebih mudah turun daripada naik. Tinggal berjalan sambil sliding-sliding sedikit. Phew, pukul 7 aku sudah tiba kembali di camping ground. Segera aku minum sebotol air putih dari sumber air kemudian aku masuk ke dalam tenda dan tertidur pulas.

Pukul 11.00 aku bangun dan turun ke sumber air untuk mengguyur kepalaku dengan air dingin kemudian yang paling penting… Bukan mengisi persediaan air melainkan… Buang air besar. Swear, itu penting. Aku sudah 2 hari tidak buang air besar. [

Setelah segar dan ringan aku pun kembali ke camping ground. Lunch time, Baby! TAPI TERNYATA BRO DIAZ BELUM MASAK! OMG!!! GUA LAPER, MA’ BRO!!!

Untungnya ada malaikat pelindungku… Mbak Ami… Amy… Sek2… Gimana tulisannya… Zzzzzz… Gitulah pokok’e!!! Habis David [yang bule itu] manggilnya Amy sedangkan yang WNI manggilnya Ami. Aku kan bingung juga.

Aku ditawari makanan! [pasang muka super happy] walaupun hanya Indomie dan kornet dan nasi yang nggak jelas rasanya tapi sudah cukup untuk mengisi perutku yang sudah menjerit-jerit! THANK YOU!!!! [yang ini emang lebay] Aku pun segera melahap makanan itu. @#$%^&*!!! TASTE LIKE———- I don’t know… I can’t say anything… Pedes-pedes, asin-asin… Weird-lah! But, I like it with a bit force like I HAVE TO!

Setelah makan, turunlah kita dari camping ground yang tingginya nyaris di atas awan itu. Turun ke danau pula. Bayangkan tebing yang nyaris vertikal itu harus dituruni sambil membawa beban berat rata-rata 20 kg tapi, tasku sudah aku tune – up [emang mobil di tuning…?] tasku hanya 10 kg! Wuahahaha! [ngakak setan]

Aku paling seneng pas turun. Tau nggak kenapa? [nggak taulah, orang aku belum beritau.] Soalnya kalau turun nggak butuh banyak tenaga. Dan tas berat ini pun jadi tidak berarti. Aku melompat-lompat di atas batu. Serasa jatuh dari sana pun tidak masalah padahal sebenarnya kalau jatuh dari sana aku bisa jadi kayak kucing penyet habis kelindes trukcontainer 10 ton. Entah berapa ketinggiannya. Aku sendiri tidak mengukur pakai meteran secara aku nggak bawa dan aku nggak sanggup juga ngukurnya.

*Tas/backpack yang sehari-hari aku bawa ke sekolah beratnya mencapai 18 kg pada hari biasa dan 23 kg pada hari sibuk.

Matahari mulai terbenam dan bulan pun menampakan dirinya. Pukul 6 kira-kira, pokoknya petang kami tiba di sekitar atau dekat hutan. Dekat tapi, bukan hutan. Itu semacam transisi dari savana ke rainforest mungkin. Aku tidak begitu mengerti. Coba tanyakan saja ke guru Geografi ya, kalau beliau tidak tau, berarti sudah saatnya mengganti guru Geografi dengan guru yang baru.

KAMI TERSESAT!!! Lebay ah. Sebenarnya bukan tersesat tapi, hanya salah jalur. Kasihan yang sudah berjalan di depan. Kira-kira sudah 100 meter di depan, jadi harus kembali lagi. Apalagi jalan kembalinya menanjak, cukup menguras tenaga. Untung saja aku belum sejauh itu. Memang siapa yang terdahulu akan menjadi yang terakhir. Huahahaha! [evil laugh]

Aku sudah tidak kuat naik. Kelelahan dan lututku gemetaran karena dari siang sudah lompat-lompat turun dari atas gunung yang luar biasa tinggi dan curam. Apalagi aku terlalu bersemangat jadi tidak memperhatikan lutut kananku yang sakit karena terjatuh di hari ke 2.

Untungnya Tuhan mengirimkan malaikatnya lagi untukku. Wah, wah, Tuhan pasti sayang sekali sama aku. Hahaha, GR sekali-kali boleh dong.

Nah, waktu itu aku berjalan dekat Mas Paul. Dia dengan baik hati menolongku untuk menaiki batu-batu besar yang dingin dan tidak berperasaan. [terharu]

Jam 8 lebih beberapa menit yang tidak pasti, kami tiba di depan Danau Segara Anak. Akhirnya sampai juga. Semuanya sudah kelelahan dan terlambat dan lapar dan mengantuk. Semua yang payah-payahlah!

Setelah mendirikan tenda, aku , Shella dan Bro Diaz berencana untuk makan tapi, semuanya sudah kepayahan dan mengantuk. Shella sudah tertidur lagi. Aku akhirnya berbaring saja untuk beristirahat. Shella dan aku sudah menyiapkan bahan makanan, tinggal dimasak saja oleh Bor Diaz. Tapi sepertinya si Bro juga sudah kelelahan. Akhirnya memasak sambil ditinggal tidur. Jam 1 lebih atau kurang aku lupa. Aku bangun dan bertanya,”Bro, makanannya uda jadi?” Secara gue kelaperan, Man!

“Sek, Yun.”

Pas Bro Diaz liat…

“WADUH! Yun! Sardine nya dimakan anjing!”

“WHATTHE****?! NESTINGKU DIJILAT ANJING?!?!?!”

DHUARBOOMDORSHRINKDEZINKBAMKABOOM!!!

Anjing sialan. Beraninya mencuri makan malamku. Menjilati nestingku lagi. Aku kan nggak bawa apapun untuk mencuci dan menghilangkan bakteri, virus, kuman yang ada di saliva anjing!

Malam yang cukup berat. [sangat berat sejak sardine di nestingku dimakan anjing.] Akhirnya hanya makan mie goreng. Lumayanlah daripada tidur dengan perut kosong. Tidur yang nyenyak walaupun sakit pinggang.

1.09.2011 DAY 4 IN TN. GUNUNG RINJANI [MEJELAJAHI HUTAN HINGGA MALAM]

Tujuan kami hari ini adalah… Pos 2 nun jauh yang terkenal mistis dan super angker. Tapi, aku belum tau hal itu hingga malamnya. Keren kan? Aku yang sangat tidak suka horrorific story tiba-tiba diceritakan cerita seperti itu malam-malam di tengah hutan yang tidak jelas. Aku bisa gila!

Awal hari ini…

Aku malas sekali bangun. Suasananya sangat menyenangkan dan sangat comfortable untuk tidur. Apalagi aku kurang tidur tapi, terpaksa aku harus bangun karena perutku sudah mulai memanggil.

KRRRRKKK!!” Yang artinya,”Gue laper, makan dong!”

Setelah susah payah masak dan menyisihkan nesting bekas saliva anjing liar yang 100% belum divaksin, akhirnya makan juga. Walaupun rasanya sama seperti hari-hari sebelumnya tapi, yang penting perut saya terisi!

Setelah makan dan diwawancarai dari handycam tentang segala sesuatu termasuk sardine yang dicuri anjing, [entah kenapa kenangan tentang sardine yang dicuri anjing itu sangat melekat di ingatanku plus Mas Bowo makan nutrijell dari nesting itu. #ngakak] aku pun ke tempat air panas mengalir. [Since aku ga tau nama tempatnya.]

Sialnya, bajuku tinggal satu. Jadi aku nggak bisa nyemplung. However, nyuci muka, rendam kaki hingga lutut, sampai basahin rambut pun sudah terasa menyegarkan. Apalagi airnya bukan air setengah es seperti di sumber air. Jadi… In Rinjani… There’s only Super Cold Water Vs Super Hot Water.

Setelah itu dimulailah perjalanan panjang pukul 12.00. Mengitari danau dan mulai naik. Naiknya lebih mudah menurutku karena bukan merupakan jalanan yang menanjak. [jalan menanjak sudah cukup mencederai ankle-ku.] Kali ini lebih menyerupai rock climbing. Naik ke batu-batu besar, berputar-putar, tapi terus naik hingga akhirnya aku mulai merasa kelelahan.

Bersama Mas Surya, Mas Paul dan Shella, akhirnya aku sampai juga di tempat para porter beristirahat. ROAR!!! Kelelahan dan lapar. Namun, sedikit coklat sudah bisa memulihkan aku. [Maniak coklat] Setelah itu Porter Fadly ngomong,”Kalo bisa sampe sebelum sunset, nanti aku gending sampai ke gerbang.”

Lumayanlah, aku anggap sebagai motivasi untuk sampai duluan.

3 jam kemudian setelah lari-lari di gurun dan sepatuku kemasukan pasir dan kerikil. Pukul 5 lebih sampai di pos 3. Segera aku buka sepatuku dan woahahah… Banyak sakali pasir di dalamnya. Aku sudah seperti kolektor pasir maniak yang menyimpan sekilo pasir dalam sepatu.

Tidak lama kami di sana karena mengejar pos 2 sebelum sunset tapi, ternyata pos 2 itu jauh sekali. Berlari-lari di hutan hungga sunset.

“Ayo, Yun!”

“Sudah sunset…” [semangat memudar]

“Nggak papa-lah! Kan emang jauh.”

“…” [tidak termotivasi. Jalan semakin lambat.]

Matahari terbenam dan bulan pun menampakkan batang hidungnya yang pesek. Sialnya si bulan tertutup oleh pohon-pohon. Langit di sana sangat indah tapi, pohon-pohon besar menutupinya. Aku jadi semakin tidak termotivasi. Argh, kenapa harus tertutup pohon! Pohonnya sama semua lagi!

Pukul 8 kami tiba di pos 2. Hanya ada porter, romo dan bro Diaz. Waktu itu Bro Diaz ikutan jadi porter juga sepertinya.

Malam itu setelah makan, aku, Shella dan Bro Diaz segera masuk tenda. Sebelum tidur ada cerita sialan yang bikin aku susah tidur. Selain cerita tentang makhluk halus, suara-suara yang mengganggu dan hutan angker sialan yang belum berhasil terlewati 100% ini, aku paling benci cerita tentang hantu di belakang romo.

Hingga pukul 2 dini hari aku masih belum berhasil tidur. Ada suara-suara yang sangat mengganggu mulai dari suara hp sampai suara Bro Diaz yang ngorok.

What a day…

2.09.2011 DAY 5 LAST DAY ON RINJANI [TURUN GUNUNG HINGGA TERKILIR]

Bangun! Bangun! Hari ini hari terakhir di Rinjani! Aku tidak sabar! Aku ingin cepat turun, keluar dari hutan menyeramkan ini! Aku sakit hati sekali gara-gara Bro Diaz dan Shella cerita tentang hal-hal gaib dan horror di hutan terutama di POS 2!!! AKU BENCI SEKALI!!

Cepat-cepat setelah minum energen dan sedikit makan dari apa saja yang tersisa, aku dan Shella segera berangkat. Karena lebih cepat berangkat dari yang lainnya, kami jadi hanya berduaan di hutan. Selain itu kurang dari 10 meter dari kami, ada pasangan Ami dan David.

Lama kemudian, jadi terpisah jauh. Aku dan Shella. Shella tiba-tiba menyuruh aku berhenti di tengah hutan.

“Ada apa in!?” pikirku,”Jangan-jangan dia kerasukan sesuatu…”

“Kita tunggu yang lain. Kita cuma sendirian lho.”

Tiba-tiba!!!

Muncul anjing liar melintas di depanku. Aku pun terkejut. Kenapa tiba-tiba muncul anjing liar yang mungkin membawa virus entah rabies atau apa!? Kupikir dia akan menggonggong, mengejar, menggigit atau apalah. Tapi TERNYATA ia berubah wujud menjadi seekor elang dan kami pun naik sanpai ke gerbang… Nggaklah, dipikir sinetron editan di Indosiar apa.

Setelah itu, munculah Mas Indro! Dan… Siapa lagi ya waktu itu… Duh, ingatanku sudah mulai memudar. Pokoknya ada dua orang lagi. Romo sama… Kayaknya Mas Ade.

Kami terus berjalan sampai akhirnya… Aku JATUH! Iya, aku jatuh. Untuk yang kelima kalinya selama di Rinjani. Setiap hari aku jatuh satu kali seperti minum obat, kan harus rutin. Tapi, kali ini rupanya ankle-ku cedera karena aku berusaha untuk menahan beban berat dan tubuhku. Akhirnya cedera juga deh. Dengan berjalan pincang-pincang, akhirnya sampai juga di gerbang TN. GUNUNG RINJANI.

Kami beristirahat sebentar dan foto-foto pastinya. Aku terjebak di kumpulan orang narsis. Jadi ketularan narsis deh[sedikit dan masih tidak mau mengakui].

Setelah makan pisang dan membeli minum, kami segera berangkat. Lama kemudian Shella berhenti karena perutnya keram akibat dia dapat tamu tidak diundang malam sebelum ke puncak Rinjani. Tapi, kemudian kami lanjut aja deh tingga dikit lagi kok.

Tak lama kemudian kami sampai!!! SAMPAI!!! AKU INGIN BERTERIAK TAPI TAK SANGGUP KARENA SUDAH KELELAHAN DAN JUGA AKU LAPAR SEKALI!

1 jam kemudian terkumpulah 20 orang dan kami segera naik ke dalam kendaraan dan kembali ke Mataram dalam waktu yang tidak singkat. Aku duduk di depan. Bukan di sebelah supir tapi, di sebelah kiri belakang supir. Sejujurnya, bokongku sudah mau kempes duduk di sana selama berjam-jam. Aku jadi tidak bisa tidur saking sakitnya. Apalagi aku tidak bisa banyak bergerak karena ankle yang menyedihkan ini.

Tapi, yang paling penting aku masih hidup.

BACK IN THE SMALL TOWN OF MATARAM

Kembali ke Kota Mataram setelah perjalanan panjang. Ankle ku sakit sekali dan terasa mulai membengkak. Semua ini gara-gara berlari dan lompat-lompat di hutan. Tapi, itu tidak penting lagi. Yang paling penting sekarang adalah menghabiskan uang untuk membeli oleh-oleh dan headset. Aku bisa gila duduk di bus seharian tanpa mendengarkan musik melainkan ocehan orang-orang dan mungkin akan ada suara tangisan anak kecil atau lebih parahnya, lagu murahan dari mainan yang dibawa anak kecil. Itu akan sangat mengganggu tidur di bus.

3.09.2011 ENJOYING MATARAM WITH MY FRIEND PAUL

Pukul 12.00 setelah makan siang aku bingung mau melakukan apa. Benar-benar tidak ada yang bisa dikerjakan sama sekali selain tidur. Untung saja waktu itu ada Mas Paul.

Dengan naik sepeda motor kami pergi ke mall. Lumayanlah daripada aku membusuk di paroki. Hehehe…

Mall di Mataram tidak besar. Seperti apa ya…? Luarnya terlihat seperti ruko. Aku sama sekali tidak tau kalau di dalamnya itu mall. Tidak lebih besar dari GM sih. [Berarti kecil banget ya…?]

Tujuan utamaku ke sana adalah beli headset. Why? Karena aku lupa bawa headset dan aku bisa gila seharian di bus tanpa musik. Begitulah pemikiran saya ke depannya. #apaseh

Setelah menemuka headset 50.000 dengan bass, yang aku cari berikutnya adalah baju. Aku kehabisan baju jadi, besok terpaksa tidak ganti baju atau harus beli baju saat itu juga.

CIDOMO

Cidomo WTH? Itu seperti Joger. Toko yang menjual benda-benda dengan gambar kartun dan kata-kata yang tidak wajar. Harganya 60.000 per piece. #promosi Nah, aku hanya membeli satu waktu itu. Karena persediaan uangku menipis untuk membeli NASI CAMPUR di hari-hari sebelumnya. #lebay padahal harga nasi campur hanya 5 ribu sampai 8 ribu. Aku juga membeli… Heh, ngapain aku share beli apa. Privacy, Man!Privacy!!!

LOMBOK HARDCORE

Setelah dari Cidomo, aku belum puas. Ada sesuatu yang kurang tapi, ternyata Mas Paul gaul juga. Lombok Hardcore. Ini dia toko yang aku benar-benar suka. Hehehe… Benar, hardcore. Harganya cukup mahal, di atas rata-rata harga baju untuk oleh-oleh tapi kalau untuk baju-baju yang sehari-hari dipakai di kota, aku bisa bilang kalau itu murah. Harga untuk lengan panjang sekitar 150 ribu sedangkan yang lengan pendek 75 ribu. Murah sih… Hanya saja, seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, persediaan uang saya sudah, menipis due to Nasi Campur. [salahkan nasi campur] Kemudian ada topi [cap] Hardsore seharga 100ribu kalau tidak salah. Design nya sih keren-keren. My style banget. Hohoho…

Next… Ke supermarket. Aku butuh sedikit logistik untu di kapal selama 6 jam. Snack-snack ringan mungkin sudah cukup mengisi kebosanan di ferry.

Setelah itu, kembali ke paroki. Berdiam di sana. Melihat-lihat, ternyata ada yang bikin nutrijell pak nesting itu. [nesting yang sudah dijilati anjing] Aku bahkan sudah lupa kalau itu nesting yang bekas dijilat anjing. Tapi, sudahlah, itu mengandung vitamin plus-plus dari planet lain.

4.09.2011 LEAVING MATARAM; GOING BACK TO SURABAYA

YES!!! Akhirnya PULANG!!! Aku sudah kangen sekali dengan SURABAYA!!!!!!!! Tapi, berat juga harus berpisah dengan teman-teman yang sudah sehidup semati seperjuangan.

Pukul 2.00 kami sudah berangkat ke terminal. Oh, ya, ini kali pertama aku pergi ke terminal bus. Kupikir aku tidak akan pernah kembali ke tempat itu. Aku benci sekali karena harus menunggu selama satu setengah jam sebelum naik ke bus. Aku lapar tau!

Banyak orang berlalu lalang. Ada si gimbal yang rambutnya sudah seperti kuping kelinci. Dia dengan santainya minta 500 rupiah. Maaf saja, aku terlalu arogan untuk berurusan dengan tipe manusia tidak tau diri seperti itu. Kerja, jangan hanya meminta. Mintanya 500 lagi, nggak minta sukarela apalagi dengan penampilan seperti itu! Tidak sudi aku memberi kepada orang seperti itu!

Cukup dengan si gimbal. Selanjutnya, aku hanya terus mengisi perut dengan air, susu, fruit tea, dan lain sebagainya yang masih berwujud cairan yang dapat diminum manusia berkelas. [maksudnya bukan air kotor, minuman fermantasi kelas rendah dsb]

Setelah naik ke bus, aku pun duduk di sebelah jendela dan sebelah kiriku ada Bro Diaz. Beberapa menit kemudian banyak yang turun untuk membeli bakso a.k.a. pentol. Entah karena pentolnya enak atau karena kelaparannya mereka nyaris ditinggal sama bus-nya. #ngakak

Selama di bus yang aku kerjakan hanya tidur sambil mendengarkan lagu-lagu Linkin Park dan the GazettE. Selain itu mungkin hanya membuka mata untuk memastikan jam makan sudah tiba atau memastikan apakah sudah saatnya turun ke ferry.

Setibanya di Surabaya aku mengambil barang-barangku yaitu 2 travel bag. Mas Bowo tidak lupa mengembalikan nesting bekas nutrijell yang sudah dijilati anjing itu. [penekanan ke ‘yang sudah dijilat anjing’] Selain itu, dia juga membantu membawakan travel bag ku.

Setelah dijemput oleh mother dan supirku, aku segera ke shinsai. Tapi, sial, ternyata sudah full jadi, aku ke sana lagi keesokan harinya.

Selain itu, aku terkena radang usus untuk ke 5 kalinya dalam hidupku. Aku benci radang usus! Padahal ususku punya jadwal yang padat untuk mencerna makanan yang aku inginkan di minggu pertama setelah dari Lombok! Tapi, akhirnya di minggu itu aku makan sushi, steak, suki, dan lainnya. Puas sekali rasanya telah berhasil melakukan satu lagi hal besar dalam perjalanan hidupku. Thanks, everyone…

THE END OF MY JOURNAL

silhouette

sunset

sunset

sunset

lake mt. rinjani

malimbu

mount rinjani

sun rise on rinjani

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s