A Cup of Pain in the Morning

A Cup of Pain in the Morning

12.10.11

Aku masih terlelap saat seseorang masuk ke dalam kamar. Yah, kebiasaan, jam tidurku memang tidak wajar dan terkadang harus melewati masa-masa di mana mereka berteriak satu sama lain dan melampiaskan amarah.

“BANGUN!” Seorang house maid, lebih tepatnya baby sitter adikku yang paling kecil. Namun, kali ini ia membangunkan adikku yang satunya, yang sedang tertidur pulas di sisiku. Dan sialnya, aku juga akan terbangun karena…

“BANGUN! JADI PERGI NGGAK SIH?!”

Berisik.

Aku sangat tidak menyukai gangguan dalam tidurku. Terutama karena aku mengalami insomnia [dan mungkin disertai hypersomnia]. Delly, adik perempuanku yang sedang tidur pulas itu tidak menyadari bahwa ia sedang berusaha dibangunkan. Betapa indahnya jika aku tidak terganggu.

Setengah jam kemudian, akhirnya putri tidur itu bangun. Walaupun tidak ada pangeran yang menciumnya karena siapapun yang berani akan aku patahkan lehernya.

Aku mencoba untuk tidur tapi, segala sesuatu yang dilakukan manusia-manusia di rumah ini sangat berisik. Delly sedang mandi dan suara air yang jatuh itu sangat berisik bagi seseorang yang sedang mencoba untuk melanjutkan tidurnya.

Waktu berjalan dengan cepat dan aku sangat berterimakasih akan hal itu. Akhirnya, ketenangan yang bisa mengembalikan tidurku.

Tapi…

Di luar, ada sesuatu yang menyebabkan kekacauan. Sesuatu telah terjadi. Aku tidak tahu a[a tapi, aku mendengar teriakan, bentakan lebih tepatnya. Daddy sedang marah atau apa, entahlah. Seharusnya Delly sudah pergi bersama mommy tapi, aku mendengar suara mereka.

“SEMBARANGAN! MAU JADI APA KAMU!?” Sekilas aku mendengar daddy berteriak.

Aku hanya menduga saja apa yang terjadi. Mungkin daddy menyuruh Delly melakukan sesuatu dan dia tidak menurutinya dengan kasar. Entahlah. Aku tidak mengerti jalan pikiran manusia-manusia itu.

  1. 00 WIB

Aku baru saja pulang ke rumah. Aku masuk ke dalam kamarku. AC sudah menyala. Sepertinya baby sitter adikku sudah menyalakannya sekitar 15 menit yang lalu. Tentu saja karena cuaca yang sangat panas akhir-akhir ini sehingga aku menyuruh para house maid untuk menyalakan AC sebelum aku tiba di rumah.

Si baby sitter Romeo, nama adikku yang paling kecil, yah, dia masuk ke dalam kamar. Seperti biasa, dia membawa beberapa barang-barang yang perlu diletakkan di dalam kamar. Selain itu, karena aku cukup akrab dengan semua house maid jadi, bercakap-cakap dengan mereka adalah hal yang biasa.

“Tau nggak tadi Delly sama papa berantem lagi?”

“Aku dengar kok…” Jawabku.

“Gara-gara dia mau potong rambutnya.”

“Emang kenapa…?”

“Dia kan mau potong pendek rambutnya.”

“Hmm…? Gimana…?”

“Berdiri-berdiri kayak kamu.”

“Ooo…”

“Sampe papa teriak-teriak tadi,”Mau jadi apa kamu? Sembarangan! Mau jadi kayak cecemu?!””

“…” Aku terdiam sejenak. Kata-kata itu sangat melukai hatiku,”Aku nggak dengar yang itu.”

Mau jadi seperti cecemu?”

Apa aku membawa pengaruh buruk ke adikku sendiri? Apa aku pernah mengajarinya atau memaksanya untuk menjadi seperti aku? Kenapa aku harus dibawa-bawa ke dalam pembicaraan itu?!

Aku memang hanya dianggap sebagai karya gagal, anak yang gagal dididik oleh ayahku? Entahlah. Sepertinya ia tidak pernah bersyukur memiliki aku. Aku hanya anak sulung yang SALAH. Tidak seperti yang diharapkan ayahku? Ia bahkan TAKUT putrinya yang lain menjadi seperti aku.

SAKIT. Itu yang aku rasakan saat itu.

END

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s